BAB II
PEMBAHASAN
A.
Dimensi-dimensi
pendidikan karakter
Pendidikan
karakter mengemban misi untuk mengembangkan watak-watak dasar yang seharusnya
dimiliki oleh peserta didik. Penghargaan (respect)
dan tanggung jawab (responbility)
merupakan dua nilai moral pokok yang harus diajarkan oleh sekolah. Nilai-nilai
moral yang laian adalah kejujuran, keadilan, toleransi, kebijaksanaan,
kedisiplinan diri, suka menolong, rasa kasihan, kerja sama, keteguhan hati, dan
sekumpulan nila-nilai demokrasi.
Pendidikan
karakter di indonesia didasarkan pada sembilan pilar karakter dasar. Karakter
dasar menjadi tujuan pendidikan karakter. Kesembilan pilar karakter dasar ini
antara lain: (1) cinta kepada allah dan semesta beserta isinya; (2) tanggung
jawab, disiplin, dan mandiri; (3) jujur; (4) hormat dan santun; (5) kasih
syang, peduli dan kerja sama; (6) percaya diri, kreatif, kerja keras dan
pantang menyerah; (7) keadilan dan kepemimpianan; (8) baik dan rendah hati; (9)
toleransi, cinta damai, dan persatuan.
B.
Tahapan-tahapan
pendidikan karakter
Karakter berkembang berdasarkan kebutuhan mengganti
insting kebinatangan yang hilang ketika manusia berkembang tahap demi tahap.
Karakter membuat seseorang mampu berfungsi didunia tanpa harus memikirkan apa
yang harus dikerjakan. Karakter manusia berkembang dan dibentuk oleh pengaturan
sosial (social arrangements).
Masyarakat membentuk karakter melalui
pendidik dan orang tua agar anak bersedia bertingkah laku seperti yang
dikehendaki masyarakat.
Pengemban
karakter sebagai proses yang tiada henti terbagi menjadi empat tahapan: pertama, pada usia dini, disebut sebagai
tahap pembentukan karakter; kedua,
pada usia remaja disebut sebagai tahap pengembangan; ketiga, pada usia dewasa disebut sebagai tahap pemantapan; keempat, pada usia tua disebut sebagai
tahap pembijaksanaan.
1. Periode
bayi
Periode bayi merupakan
masa perkembangan yang merentang dari kelahiran hingga 18 atau 24 bulan. Masa
ini ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
a. Masa
dasar pembentukan pola perilaku, sikap, dan ekspresi emosi.
b. Masa
pertumbuhan dan perubahan berjalan cepat, baik fisik maupun psikologis
c. Masa
kurangnya ketergantungan
d. Masa
meningkatnya individualitas, yaitu saat bayi mengembangkan hal-hal yang sesuai
dengan minat dan kemampuannya.
e. Masa
permulaan sosialisasi
f. Masa
permulaan berkembangnya penggolongan peran seks, seperti terkait dengan pakaian
yang dipakainya.
g. Masa
yang menarik, baik bentuk fisik maupun perilaku
h. Masa
permulaan kreativitas
i.
Masa berbahaya baik fisik (seperti
kecelakaan) atau psikologis (karena perlakuan yang buruk)
2. Periode
awal anak
Periode awal anak
adalah periode perkembangan yang merentang dari akhir masa bayi hingga usia 5
atau 6 tahun; periode ini kadang-kadang disebut juga tahun-tahun prasekolah “preschool years”. Selama masa ini, anak
belajar untuk menjadi lebih mandiridan memerhatikan dirinya. Mereka
mengembangkan kesiapan sekolah (seperti mengikuti perintah dan mengenal huruf)
dan menghabiskan banyak waktunya untuk bermain dengan teman sebayanya.
3. Periode
pertengahan dan akhir anak
Periode ini adalah masa
perkembangan yang terentang dari usia sekitar 6 hingga 10 atau 11 tahun. Masa
ini sering juga disebut tahun-tahun sekolah dasar. Anak pada masa ini sudah
menguasai keterampilan dasar membaca, menulis, dan matematik (istilah
populernya CALISTUNG : baca, tulis, dan hitung). Yang menjadi tema sentral
periode ini adalah prestasi (achievment)
dan perkembangan pengendalian diri (self-control).
4. Periode
remaja
Periode remaja adalah
masa transisi antara masa anak dengan masa dewasa, terentang dari usia sekitar
12/13 tahun sampai usia 19/20 tahun, yang ditandai dalam perubahan aspek
biologis, kognitif, dan sosioemosional. Yang menjadi tugas kunci reamaja adalah
persiapan menghadapi masa dewasa.
5. Periode
dewasa
Periode ini terdiri
atas tiga masa yaitu awal, pertengahan, dan akhir dewasa. Masa awal dewasa
dimulai dari sekitar 20 tahun hingga 30/35 tahunan. Masa ini merupakan saatnya
individu membangun independensi (kemandirian) pribadi dan ekonomi, serta
peningkatan perkembangan karier. Masa perkembangan dewasa dimulai sekitar usia
35 hingga 45 tahun, dan berakhir pada usia 55 dan 65 tahun. Periode ini
merupakan saat peningkatan minat untuk menanamkan nilai-nilai kegenerasi
berikutnya, meningkatkan refleksi tentang makna kehidupan, dan meningkatkan
perhatian terhadap tubuhnya sendiri. Sementara akhir dewasa adalah terentang
dari usia 60 atau 70 sampai mati. Periode ini merupakan saat penyesuaian diri
terhadap melemahnya kekuatan dan kesehatan fisik, masa pensiun, dan
berkurangnya penghasilan.
Karakter
dikembangkan melalui tahap pengetahuan (knowing), acting, menuju kebiasaan
(habit). Hal ini berarti, karakter tidak sebatas pada pengetahuan. Seseorang
yang memiliki pengetahuan tentang kebaiikan belum tentu mampu bertindak sesuai
dengan pengetahuannya itu kalau ia tidak berlatih untuk melakukan kebaikan
tersebut. Karakter tidak sebatas pengetahuan. Karakter labih dalam lagi,
menjangkau wilayah emosi dan kebiasaan diri. Dengan demikian, diperlukan
komponen karakter yang baik (components
of good character) yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral,
moral feeling atau perasaan tentang moral, dan moral action atau perbuatan
moral. Hal ini diperlukan siswa didik agar mampu memahami, merasakan, dan
mengerjakan sekaligus nila-nilai kebaikan.
Untuk
membentuk karakter anak diperlukan syarat-syarat mendasar bagi terbentuknya
kepribadian yang baik. Menurut Megawangi, ada tiga kebutuhan anak yang harus
dipenuhi, yaitu maternal bonding,
rasa aman, dan stimulus fisik dan mental. Maternal
bonding (kelekatan psikologis dengan ibunya) merupakan dasar penting dalam
pembentukan karakter anak karena aspek ini berperan dalam pembentukan dasar
kepercayaan (trust) orang lain pada
anak. Kelekatan ini membuat anak diperhatikan dan menumbuhkan rasa aman
sehingga menumbuhkan rasa percaya. Menurut Erikson, dasar kepercayaan yang
ditumbuhkan melalui hubungan ibu-anak pada tahun pertama kehidupan anak akan
memberi bekal bagi kesuksesan anak dalam kehidupan sosialnya ketika ia dewasa.
Dengan kata lain, ikatan emosional yang erat antara ibu-anak diusia awal dapat
membentuk kepribadian yang baik pada anak.
Kebutuhan
akan rasa aman yaitu kebutuhan anak akan lingkungan yang stabil dan aman.
Kebutuhan ini penting bagi pembentukan karakter anak karena lingkungan yang
berubah-ubah akan membahayakan perkembangan emosi bayi. Pengasuh yang
berganti-ganti juga akan berpengaruh negatif pada perkembangan emosi anak.
Menurut Bowlby (dalam Megawangi, 2003), normal bagi seorang bayi untuk mencari
kontak hanya dengan satu orang (biasanya ibu) pada tahap-tahap awal masa bayi.
Kekacauan emosi anak yang terjadi karena tidak adanya rasa aman ini diduga oleh
para ahli gizi berkaitan dengan masalah kesulitan makan pada anak. Tentu saja
hal ini tidak kondusif bagi pertumbuhan anak yang tidak optimal.
Kebutuhan
akan stimulus fisik dan mental juga merupakan aspek penting dalam pembentukan
karakter anak. Tentu saja hal ini membutuhkan perhatian yang besar dari orang
tua dan reaksi timbal balik antara ibu dan anaknya. Menurut pakar pendidikan
anak, seorang ibu yang perhatian (yang diukur dari seringnya ibu melihat mata
anaknya, mengelus, menggendong, dan berbicara kepada anaknya)terhadap anaknya
yang berusia dibawah enam bulan akan memengaruhi sikap bayinya sehingga menjadi
anak yang gembira, antusias mengeksplorasi lingkungannya dan menjadikan anak
yang kreatif.
Pendidikan
karakter menurut Heritage Foundation bertujuan membentuk manusia secara utuh (holistis) yang berkarakter, yaitu
mengembangkan aspek fisik, emosi, sosial, kreativitas, spritual, dan
intelektual siswa secara optimal. Selain itu, juga membentuk manusia yang lifelong learners (pembelajar sejati).
Strategi yang dapat dilakukan pendidik untuk mengembangkan pendidikan karakter
sebagai berikut:
1. Menerapkan
metode belajar yang melibatkan partisipasi aktif murid, yaitu metode yang dapat meningkatkan motivasi
murid karena seluruh dimensi manusia terlibat secara aktif dengan diberikan
materi pelajaran konkret, bermakna, serta relevan dalam konteks kehidupannya (student active learning, contextual
learning, inquiry based learning, and integrated learning).
2. Menciptakan
lingkungan belajar yang kondusif sehingga anak dapat belajar dengan efektif
didalam suasana yang memberikan rasa aman, penghargaan, tanpa ancaman, dan
memberikan semangat.
3. Memberikan
pendidikan karakter secara eksplisit, sistematis dan berkesinambungan dengan
melibatkan aspek knowing the good, loving
the good, dan acting the good.
4. Metode
pengajaran yang memerhatikan keunikan masing-masing anak, yaitu menerapkan
kurikulum yang melibatkan juga sembilan aspek kecerdasan manusia.
5. Seluruh
pendekatan diatas menerapkan prinsip-prinsip developmentally appropriate practices.
6. Membangun
hubungan yang supportive dan penuh
perhatian di kelas dan seluruh sekolah. Yang pertama dan terpenting adalah
bahwa lingkungan sekolah harus berkarakteristik aman serta saling percaya,
hormat, dan perhatian pada kesejahteraan lainnya.
7. Model
(contoh) dalam berperilaku positif. Bagian terpenting dari penetapan lingkungan
yang supportive dan penuh perhatian
di kelas adalah teladan perilaku penuh perhatian dan penuh penghargaan dari
guru dalam interaksinya dengan siswa.
8. Menciptakan
peluang bagi siswa untuk menjadi aktif dan penuh makna termasuk dalam kehidupan
di kelas dan sekolah. Sekolah harus menjadi lingkungan yang demokratis
sekaligus tempat bagi siswa untuk membuat keputusan dan tindakannya, serta
untuk merefleksi atas hasil tindakannya.
9. Mengajarkan
keterampilan sosial dan emosional secara esensial. Bagian terpenting bagi perkembangan
positif siswa termasuk pengajaran langsung keterampilan sosial-emosional,
seperti mendengarkan ketika orang lain berbicara, mengenali dan me-menage
emosi, menghargai perbedaan, dan menyelesaikan konflik melalui cara lemah
lembut yang menghargai kebutuhan (kepentingan) masing-masing.
10. Melibatkan
siswa dalam wacana moral. Isu moral adalah esensi pendidikan anak untuk menjadi
prososial, moral manusia.
11. Membuat
tugas pembelajaran yang penuh makna dan relevan untuk siswa.
12. Tak
ada anak yang terabaikan. Tolak ukur yang sesungguhnya dari kesuksesan sekolah
termasuk pendidikan “semua” siswa untuk mewujudkan seluruh potensi mereka
dengan membantu mereka mengembangkan bakat khusus dan kemampuan mereka, dan
dengan membangkitkan pertumbuhan intelektual, etika, dan emosi mereka.
C.
Prinsip-prinsip
penyusunan materi pendidikan karakter
Pendidikan karakter harus dimulai sejak lahir bahkan masih dalam
kandungan melalui belaian kasih sayang ibu dan bapaknya. Pada masa bayi,
penanaman pendidikan karakter dalam keluarga sangat penting. Sejalan dengan
tumbuh kembangnya anak, pada lingkungan sekolah penanaman pendidikan karakter
lebih kompleks. Anak-anak dituntut belajar berperilaku dalam menghayati,
mengamalkan nilai dan norma, dan akhlak mulia. Pembinaan karakter mudah dilakukan
ketika anak-anak masih duduk dibangku SD. Itulah sebabnya
pemerintah memprioritaskan pendidikan karakter di SD, bukan berarti pada
jenjang lainnya tidak mendapat perhatian, namun porsinya saja yang berbeda. Pendidikan karakter yang diterapkan disekolah tidak diajarkan
dalam mata pelajaran khusus. Namun dilaksanakan melalui keseharian pembelajaran
yang sudah berjalan disekolah. Penanaman dan pembiasaan dalam menanamkan
nilai-nilai luhur di lingkungan sekolah harus terintegrasi dalam proses
pembelajaran pada setiap mata pelajaran.
Prinsip yang digunakan dalam pengembangan pendidikan karakter yaitu :
1.
Berkelanjutan: mengandung
makna bahwa proses pengembangan nilai-nilai karakter merupakan proses yang
tiada henti, dimulai dari awal peserta didik masuk sampai selesai dari suatu
satuan pendidikan bahkan sampai terjun kemasyarakat.
2.
Melalui semua mata pelajaran:
pengembangan diri dan budaya sekolah serta muatan lokal.
3.
Nilai tidak diajarkan tetapi
dikembangkan dan dilaksanakan. Satu hal yang selalu harus diingat bahwa suatu
aktivitas belajar dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan ranah kognitif,
afektif, dan psikomotorik.
4.
Proses pendidikan dilakukan
oleh peserta didik secara aktif dan menyenangkan. Guru harus merencanakan
kegiatan belajar yang menyebabkan peserta didik aktif merumuskan pertanyaan,
mencari sumber informasi lain, dan mengumpulkan informasi dari sumber, mengolah
informasi yang sudah dimiliki, dan menumbuhkan nilai-nilai budaya dan karakter
pada diri mereka melalui berbagai kegiatan belajar yang terjadi dikelas,
sekolah dan tugas-tugas luar sekolah.
D.
Peran
keluarga dalam pendidikan karakter
Peran keluarga dalam pendidikan karakter anak sangatlah penting
karena keluarga merupakan kelompok sosial pertama yang menjadi identifikasi
anak.
Keluarga juga lingkungan pertama yang mengenalkan
nilai-nilai kehidupan pada anak. Orang tua dan anggota keluarga lainnya
merupakan “significan people” bagi perkembangan kepribadian anak. Keluarga
sebagai institusi yang memfasilitasi kebutuhan dasar insani (manusiawi) baik
yang bersifat fisik-biologis, maupun sosiopsikologis.
Orang tua mempunyai peranan sangat penting bagi tumbuh kembangnya
anak sebagai seorang pribadi yang sehat, cerdas, terampil, mandiri, dan
berakhlak mulia. Seiring dengan
fase perkembangan anak, maka peran orang tua juga mengalami perubahan. Peranan
orang tua yang sesuai dengan fase perkembangan anak adalah:
1)
Pada masa bayi berperan
sebagai perawat (caregiver)
Ibu atau ayah
mempunyai peranan untuk memlihara kebersihan dan kesehatan anak, seperti
memberikan asupan makanan yang bergizi, memandikan, dan memakaikan pakaian yang
bersih.
2)
Pada masa kanak-kanak sebagai
pelindung (protector)
Pada saat
anak sudah mulai merangkak dan berjalan, orang tua perlu memberika perhatian
ekstra, untuk menjaga atau melindunginya, karena pada saat itu anak sudah mulai
melakukan eksplorasi lingkungan. Dia sudah dapat bergerak dari satu tempat ke
tempat yang lain (didalam atau halaman rumah), dan mencoba untuk memanipulasi
(meraba, menarik, mendorong, atau mengotak-ngatik) benda-benda sehingga apabila
orang tua kurang memerhatikannya, ada kemungkinan anak mengalami kecelakaan,
seperti luka, terpleset, atau jatuh.
3)
Pada usia prasekolah sebagai
pengasuh (nurturer)
Ketika anak
sudah menginjak usia prasekolah, pada umumnya (terutama yang bertempat tinggal
di perkotaan) anak sudah masuk TK atau RA, untuk itu orang tua perlu memberikan
asuhan atau bimbingan kepada anak, seperti (1) membiasakan anak untuk memakai
pakaian sendiri dan makan sendiri; (2) memelihara kebersihan sendiri dan
lingkungan; (3) membimbing cara-cara berhubungan sosial dengan teman disekolah;
dan (4) membiasakan anak untuk mengerjakan PR nya sendiri.
4)
Pada masa sekolah dasar
sebagai pendorong (encourager)
Anak usia SD
sudah memiliki aktivitas yang cukup banyak, terutama yang terkait dengan bidang
akademik dan sosial (ekstrakurikuler)
yang diprogramkan sekolah. Terkait dengan hal itu, orang tua perlu
memfasilitasi aktivitas anak tersebut, yaitu dengan cara memotivasi atau
memberikan dorongan agar anak tetap bersemangat untuk aktif mengikuti kegiatan
yang diprogramkan sekolah.
5)
Pada masa praremaja dan remaja
berperan sebagai konselor (counselor)
Istilah konselor disini bukan dimaksudkan seorang konselor yang
profesional yang memberikan layanan bimbingan dan konseling disekolah, tetapi
bagaimana orang tua menerapkan sikap dan perlakuan
kepada anak layaknya seperti konselor yang berfungsi sebagai fasilitator dan
motivator bagi anak dalam mencapai perkembangannnya. Pada usia remaja,
perkembangan anak mengarah ke sikap independen, yaitu keinginan untuk bebas
dari campur tangan orang lain, sehingga ia tidak mau lagi diperlakukan seperti
anak kecil. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih baik dalam menghadapi anak
yang sudah remaja adalah dialog. Contohnya, pada saat
anak memilih jurusan di sekolah, atau memilih jurusan di perguruan tinggi, maka
sebaiknya orang tua tidak mendiktenya atau mengharuskan anak memilih jurusan
atau perguruan tinggi tertentu, tetapai mendiallogkan tentang apa jurusan itu,
mengapa memilih jurusan itu, dan bagaimana proses pembelajaran di jurusan
tersebut. Melalui dialog ini, anak akan memiliki pemahaman yang luas, sehingga
dia dapat menentukan pilihannya dengan pertimbangan yang matang.
Lingkungan
keluarga yang dipandang memengaruhi perkembangan anak diklasifikasikan menjadi
dua faktor, yaitu keberfungsian keluarga dan pola hubungan orang tua anak.
a.
Keberfungsian keluarga
Seiring perjalanan
hidupnya yang diwarnai faktor internal (kondisi fisik, psikis, dan moralitas
anggota keluaraga) dan faktor eksternal (perkembangan sosial budaya), maka
setiap keluarga mengalami perubahan yang beragam. Ada keluarga yang semakin
kokoh dalam menerapkan fungsi-fungsinya (fungsional-normal)
sehingga setiap anggota merasa nyaman dan bahagia (baitii jannatii = rumahku surgaku);
dan ada juga keluarga yang mengalami broken
home, keretakan atau ketidakharmonisan (disfungsional – tidak normal)
sehingga setiap anggota keluarga merasa tidak bahagia (baitii naarii = rumahku nerakaku).
b.
Pola hubungan orang tua – anak
(sikap atau perlakuan orang tua terhadap anak)
Diana
Baumrind mengemukakan hasil penelitiannya melalui observasi dan wawancara
terhadap siswa TK. Penelitian
ini dilakukannya, baik dirumah maupun di sekolah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gaya perlakuan orang tua (parenting
style) dan kontribusinya terhadap kompetensi sosial, emosional, dan intelektual
siswa. Hasil penelitiannya dapat disimak pada tabel
berikut.
Dampak parenting style
(gaya perlakuan orang tua) terhadap
perilaku anak
Parenting
style
|
Sikap
atau perlakuan orang tua
|
Profil
perilaku anak
|
1. Authoritarian
(otoriter) yaitu gaya
asuh yang mebatasi dimana hanya ad sedikit perckapan antara orang tua dan
murid.
|
1. sikap“acceptance(penerimaan/sambutan/dukungan)”rendah,namun
kontrolnya tinggi.
2. Suka
menghukum secara fisik.
3. Bersikap
mengomando (memerintah/mengharuskan anak untuk melakukan sesuatu tanpa
kompromi).
4. Bersikap
kaku (keras)
5. Cenderung
emosional dan bersikap menolak
|
1. mudah tersinggung
2. penakut
3. pemurung
4. mudah terpengaruh
5. mudah stres
6. tidak mempunyai arah masa depan
yang jelas
7. tidak bersahabat
|
2. Permissive
(serba membolehkan)
artinya sikap dan pandangan yang membolehkan.
|
1. Sikap
“acceptance” nya tinggi,namun
kontrolnya rendah
2. Memberi
kebebasan kepada anak untuk menyatakan keinginannya
|
1. bersikap impulsif dan agresif
2. suka memberontak
3. kurang memiliki rasa percaya diri
dan mengendalikan diri
4. suka mendominasi
5. tidak jelas arah hidupnya
6. prestasinya rendah
|
3. Authoritative
(berwenang) artinya
gaya asuh positif yang mendorong anak untuk independent tapi masih membatasi
dan mengontrol tindakan mereka.
|
1. Sikap
“acceptance” dan kontrolnya tinggi
2. Bersikap
responsif terhadap kebutuhan anak
3. Mendorong
anak untuk menyatakan pendapat atau pertanyaan
4. Memberikan
penjelasan tentang perbuatan yang baik dan buruk.
|
1. bersikap bersahabat
2. memiliki rasa percaya diri
3. mampu mengendalikan diri
4. bersikap sopan
5. mau bekerja sama
6. memiliki rasa ingin tahunya yang
tinggi
7. mempunyai arah atau tujuan hidup
yang jelas
8.berorientasi terhadap prestasi.
|
Baca Juga
- Cara mendapatkan pulsa 15.000 secara gratis menggunakan aplikasi pede
- Usaha jualan pulsa, data internet, tiket pesawat, tagihan listrik, PDAM DLL hanya menggunakan satu aplikasi secara gratis
- EKLANKU MAX: Pendaftaran Gratis dan Menjadi Mitra Bisnis Online ( Otu Chat, Eklanku Shopping, Gowist, Oway, dan Payku )
- Dimensi-dimensi pendidikan karakter
- Dasar Filsofi Implementasi Pendidikan Karakter
- HAKIKAT PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK
- Matematika islam
- hakikat, visi dan misi pendidikan islam
- makalah problem demokrasi dan peran warga negara
- Makalah ragam tulis ilmiah
- Pengertian dan Hubungan antara Iman Islam dan Ihsan
- makalah hadist
- Ilmu budaya dan sosial
- contoh peper
- contoh proposal