Sabtu, 21 Maret 2015

makalah ragam tulis ilmiah

Dimensi-dimensi pendidikan karakter
BAB I
PENDAHULUAN

     A.    Latar Belakang

Bahasa Indonesia sebagaimana bahasa pada umumnya, digunakan untuk tujuan tertentu dan konteks ini akan menentukan ragam bahasa Indonesia yang harus digunakan. Seseorang yang menggunakan bahasa Indonesia dalam orasi politik, misalnya akan menggunakan ragam bahasa yang berbeda dengan orang lain, seperti pada saat menyampaikan khutbah Jumat atau bahan kuliah. Mahasiswa disadarkan bahwa dalam dunia akademik/ilmiah, ragam bahasa Indonesia yang digunakan adalah ragam ilmiah, yang memiliki ciri khas: cendekia, lugas dan jelas, menghindari kalimat fragmentaris, bertolak dari gagasan, formal dan objektif, ringkas dan padat, dan konsisten.
Bahasa indonesia perlu dipelajari oleh semua lapisan masyarakat. Tidak hanya pelajar dan mahasiswa saja, tetapi semua warga Indonesia wajib mempelajari bahasa Indonesia. Dalam bahasan bahasa Indonesia itu ada yang disebut ragam bahasa. Dimana ragam bahasa merupakan variasi bahasa yang pemakaiannya berbeda-beda. Ada ragam bahasa lisan dan ada ragam bahasa tulisan.
   Oleh sebab itu, untuk memperdalam pemahaman mengenai bahasa ilmiah, kami mengangkat sebuah judul makalah yaitu “Bahasa Indonesia Ragam Ilmiah”.

      B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang diangkat pada pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan bahasa Indonesia ragam ilmiah?
2.      Jelaskan karakteristik bahasa Indonesia ragam ilmiah!
3.      Jelaskan berbagai ragam ilmiah!
4.      Bagaimana penggunaan bahasa Indonesia ragam ilmiah dalam menulis dan presentasi ilmiah?

      C.    Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui pengertian bahasa Indonesia ragam ilmiah.
2.      Mengetahui karakteristik bahasa Indonesia ragam ilmiah.
3.      Mengetahui berbagai ragam ilmiah.
4.      Mengetahui penggunaan bahasa Indonesia ragam ilmiah dalam menulis dan presentasi ilmiah.


BAB II
PEMBAHASAN

       A.    Pengertian Bahasa Indonesia Ragam Ilmiah

Ilmiah itu merupakan kualitas dari tulisan yang membahas persoalan-persoalan dalam bahasa Indonesia bidang ilmu tertentu. Kualitas keilmuan itu didukung juga oleh pemakaian bahasa dalam ragam ilmiah. Jadi, ragam bahasa ilmiah itu mempunyai sumbangan yang tidak kecil terhadap kualitas tulisan ilmiah. Ragam ilmiah merupakan pemakaian bahasa yang mewadahi dan mencerminkan sifat keilmuan dari karya ilmiah. Sebagai wadah, ragam ilmiah harus menjadi ungkapan yang tepat bagi kerumitan (sofistifikasi) pemikiran dalam karya ilmiah. Dari pemakaian ragam itu juga bukan saja tercermin sikap ilmiah, melainkan juga kehati-hatian, kecendekiaan, kecermatan,  ke   bijaksanaan (wisdom), dan kecerdasan  dari penulisnya.
Bahasa Indonesia ragam ilmiah merupakan salah satu bahasa Indonesia yang digunakan dalam menulis karya ilmiah. Sebagai bahasa yang digunakan untuk memaparkan fakta, konsep, prinsip, teori atau gabungan dari keempatnya. Bahasa Indonesia diharapkan menjadi media efektif untuk komunikasi ilmiah, baik secara tertulis maupun lisan.
Bahasa Indonesia Ragam Ilmiah adalah bahasa yang digunakan dalam menulis karya ilmiah, bahasa indonesia yang dimaksud adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik dalam penulisan maupun secara tulisan. Dalam menulis ragam ilmiah, haruslah sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar (sesuai dengan Ejaan yang Disempurnakan dan juga aturan-aturan penulisan yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia).

       B.     Karakteristik Bahasa Indonesia Ragam Ilmiah

Bahasa Indonesia ragam ilmiah memiliki karakteristik cendikia, lugas dan jelas, menghindari kalimat fragmatis, bertolak dari gagasan, formal, objektif, bertolak dari gagasan, ringkas dan padat, dan konsisten.
1.    Cendikia
Artinya, bahasa ilmiah itu mampu digunakan secara tepat untuk mengungkapkan hasil berpikir logis. Bahasa yang cendekia mampu membentuk pernyataan yang tepat dan seksama sehingga gagasan yang disampaikan penulis dapat diterima secara tepat oleh pembaca. Kalimat-kalimat yang digunakan mencerminkan ketelitian yang objektif sehingga suku-suku kalimatnya mirip dengan proposisi logika. Karena itu, apabila sebuah kalimat digunakan untuk mengungkapkan dua buah gagasan jelas dalam kalimat yang mewadahinya.
2.    Lugas dan Jelas
Sifat lugas dan jelas dimaknai bahwa bahasa Indonesia mampu menyampaikan gagasan ilmiah secara jelas dan tepat. Untuk itu, setiap gagasan diungkapkan secara langsung sehingga makna yang ditimbulkan adalah makna lugas. Pemaparan bahasa Indonesia yang lugas akan menghindari kesalahpahaman dan kesalahan penafsiran isi kalimat. Penulisan yang bernada sastra pun perlu dihindari. Gagasan akan mudah dipahami apabila dituangkan dalam bahasa yang jelas dan hubungan antara gagasan yang satu dengan yang lain juga jelas. Kalimat yang tidak jelas umumnya akan muncul pada kalimat yang sangat panjang.
3.    Menghindari Kalimat Fragmentaris
Bahasa Indonesia ragam ilmiah yang sifatnya menghindari kalimat fragmentaris artinya bahasa Indonesia ragam ilmiah juga menghindari penggunaan kalimat fragmentaris. Kalimat fragmentaris adalah kalimat yang belum selesai. Kalimat terjadi antara lain karena adannya keinginan penulis menggunakan gagasan dalam beberapa kalimat tanpa menyadari kesatuan gagasan yang diungkapkan. Bahasa Indonesia bersifat bertolak dari gagasan artinya bahasa ilmiah digunakan dengan orientasi gagasan.
4.    Formal
Bahasa yang digunakan dalam komunikasi ilmiah bersifat formal. Tingkat keformalan bahasa dalam tulisan ilmiah dapat dilihat pada lapis kosa kata, bentukan kata, dan kalimat. Bentukan kata yang formal adalah bentukan kata yang lengkap dan utuh sesuai dengan aturan pembentukan kata dalam bahasa Indonesia. Kalimat formal dalam tulisan ilmiah dicirikan oleh kelengkapan unsur wajib (subyek dan predikat), ketepatan penggunaan kata fungsi atau kata tugas, kebernalaran isi, dan tampilan esei formal.
5.    Objektif
Bahasa ilmiah bersifat objektif. Untuk itu, upaya yang dapat ditempuh adalah menempatkan gagasan sebagai pangkal tolak pengembangan kalimat dan menggunakan kata dan struktur kalimat yang mampu menyampaikan gagasan secara objektif. Terwujudnya sifat objektif tidak cukup dengan  hanya menempatkan gagasan sebagai pangkal tolak. Sifat objektif juga diwujudkan dalam panggunaan kata. Kata-kata yang menunjukkan sifat subjektif tidak digunakan.
6.    Bertolak dari Gagasan
Bahasa ilmiah digunakan dengan orientasi gagasan. Bahasa Indonesia ragam ilmiah mempunyai sifat bertolak dari gagasan. Artinya, penonjolan diadakan pada gagasan atau hal yang diungkapkan dan tidak pada penulis. Implikasinya, kalimat-kalimat yang digunakan didominasi oleh kalimat pasif sehingga kalimat aktif dengan penulis sebagai pelaku perlu dihindari.
7.    Ringkas dan Padat
Ragam bahasa ilmiah bersifat ringkas berpusat pada pokok permasalahan. Sifat ringkas dan padat direalisasikan dengan tidak adanya unsur-unsur bahasa yang mubazir. Itu berarti menuntut adanya penggunaan bahasa yang hemat. Ciri padat merujuk pada kandungan gagasan yang diungkapkan dengan unsur-unsur bahasa. Karena itu, jika gagasan yang terungkap sudah memadai dengan unsur bahasa yang terbatas tanpa pemborosan, ciri kepadatan sudah terpenuhi. Keringkasan dan kepadatan penggunaan bahasa tulis ilmiah juga ditandai dengan tidak adanya kalimat atau paragraph yang berlebihan dalam tulisan ilmiah.
8.    Konsisten
Bahasa Indonesia bersifat konsisten artinya konsisten unsur bahasa dan ejaan dalam bahasa tulis ilmiah digunakan secara konsisten. Sekali sebuah unsur bahasa, tanda baca, tanda-tanda lain, dan istilah digunakan sesuai dengan  kaidah, itu semua selanjutnya digunakan secara konsisten. Sebagai contoh, kata tugas untuk digunakan untuk mengantarkan tujuan dan kata tugas bagi mengantarkan objek (Suparno, 1998). Selain itu, apabila pada bagian awal uraian telah terdapat singkatan SMP (Sekolah Menengah Pertama), pada uraian selanjutnya digunakan singkatan SMP tersebut. Sifat-sifat bahasa Indonesia yang demikian ditempatkan pada pilihan kata, pengembangan kalimat, pengembangan paragraf, kecermatan dalam penggunaan ejaan, tanda baca, dan aspek-aspek mekanik lainnya.

     C.    Berbagai Ragam Ilmiah

Ragam bahasa adalah  variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara. Ragam bahasa ditinjau dari media atau sarana yang digunakan untuk menghasilkan bahasa, yang terdiri dari ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulisan.
Bahasa yang di hasilkan menggunakan alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar dinamakan ragam bahasa lisan sedangkan bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai dasarnya, dinamakan ragam bahasa tulisan. Jadi dalam ragam bahasa lisan kita berurusan dengan lafal, dalam ragam bahasa tulisan kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan). Selain itu aspek tata bahasa dan kosa kata dalam kedua ragam tersebut memiliki hubungan yang erat. Ragam bahasa tulis yang unsur dasarnya  ragam bahasa lisan. Oleh karena itu sering timbul kesan antara ragam bahasa lisan dan tulisan itu sama. Padahal, kedua jenis ragam bahasa itu berkembang menjadi sistem bahasa yang memiliki sistem seperangkat kaidah yang berbeda satu dengan yang lainnya.
Ragam bahasa dibagi 3 berdasarkan media,cara pandang penutur, dan topik pembicaraan.
1.    Ragam bahasa berdasarkan media
a.    Ragam bahasa Media (Lisan)
Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan kalimat. Namun hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan kalimat dan unsur-unsur didalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicara menjadi pendukung didalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan.
Pembicara lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicara lisan dalam situasi tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa dituliskan, ragam bahasa itu tidak bisa disebut ragam bahasa tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak  menunjukan cir-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dengan tulisan,  ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis. Kedua ragam itu masing-masing adapun ciri dari keduanya:
Ciri-ciri ragam lisan:
·      Memerlukan orang kedua/teman bicara.
·      Tergantung kondisi, ruang, dan waktu.
·       Tidak harus memperhatikan gramatikal, hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh.
·      Berlangsung cepat
Contohnya; “Sudah saya baca buku itu”
b.    Ragam Tulis
Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulisan makna kalimat yang diungkapkan nya ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalomat. Oleh karrena itu, penggunaan ragam baku tulis diperlukan kecermatan dan ketepatan dalam pemilihan kata, penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk katadan struktur kalimat, serta kelengkapaan unsur-unsur bahasa di dalam struktur kalimat.


Ciri-ciri ragam tulis:
1.    Tidak memerlukan orang kedua/teman bicara.
2.    Tidak tergantung kondisi, situasi & ruang serta waktu.
3.    Harus memperhatikan unsur gramatikal.
4.    Berlangsung lambat.
5.    Selalu memakai alat bantu.
6.    Kesalahan tidak dapat langsung dikoreksi.
7.    Tidak dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik muka, hanya terbantu dengan tanda baca.
2.    Ragam bahasa Indonesia dari cara pandang penutur
Berdasarkan cara pandang penutur, ragam bahasa indonesia terdiri dari ragam dialek, ragam terpelajar, ragam resmi dan ragam tak resmi.
Contoh:
Ragam dialek     : “Gue udah baca itu buku ”
Ragam terpelajar : “Saya sudah membaca buku itu”
Ragam resmi        : “Saya sudah mmbaca buku itu”
Ragam tak resmi  : “Saya sudah baca buku itu”


3.    Ragam bahasa Indonesia menurut topik pembicaraan
Berdasarkan topik pembicaraan, ragam bahasa terdiri dari ragam bahasa ilmiah, ragam hukum, ragam bisnis, ragam agama, ragam sosial, ragam kedokteran dan ragam sastra. 

D.    Penggunaan Bahasa Indonesia Ragam Ilmiah dalam Menulis dan Presentasi Ilmiah
         Menggunakan bahasa Indonesia ragam ilmiah  dalam menulis dan persentasi ilmiah berarti memanfaatkan potensi bahasa Indonesia untuk memaparkan fakta, konsep, prinsip, teori atau gabungan dari keempat hal tersebut secara tertulis dan lisan. Pada saat menulis tulisan ilmiah penulis harus berusaha keras agar bahasa Indonesia yang di gunakan benar-benar menunjukkan sifat yang cendikia, lugas dan jelas, bertolak dari gagasan, formal, objektif, ringkas dan padat, serta konsisten.
         Ciri-ciri penggunaan bahasa Indonesia ragam ilmiah dalam penulisan karya ilmiah adalah sebagai berikut :
1.      Baku
Sturuktur bahasa yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa indonesia baku, baik mengenai struktur bahasa kalimat maupun kata. Demikian juga, pemilihan kata istilah dan penulisan yang sesuai dengan kaidah ejaan.
2.      Logis
Ide atau pesan yang disampaikan melalui bahasa indonesia ragam ilmiah dapat diterima akal. Contoh : "Masalah pengembangan dakwah kita tingkatkan." Ide kalimat tersebut tidak logis, pilihan kata "masalah" kurang tepat atau tidak spesifik.
3.      Kuantitatif
Keterangan yang dikemukakan pada kalimat dapat diukur secara pasti. Perhatikan contoh di bawah ini: Da’i di Gunung Kidul “kebanyakan” lulusan perguruan tinggi. Arti kata kebanyakan relatif, mungkin bisa 5, 6 atau 10 orang. Jadi, dalam tulisan ilmiah tidak benar memilih kata “kebanyakan” kalimat di atas dapat kita benahi menjadi “Da’i di Gunung Kidul 5 orang lulusan perguruan tinggi, dan yang 3 orang lagi dari lulusan pesantren”.
4.      Tepat
Ide yang diungkapkan harus sesuai dengan ide yang dimaksudkan oleh pemutus atau penulis dan tidak mengandung makna ganda. Contoh: “Jamban pesantren yang sudah rusak itu sedang diperbaiki”. Kalimat tersebut, mempunyai makna ganda, yang rusaknya itu mungkin jamban, atau mungkin juga pesantren.
5.      Denotatif
Kata yang digunakan atau dipilih sesuai dengan arti sesungguhnya dan tidak diperhatikan perasaan karena sifat ilmu yang objektif.
6.      Runtun
Ide diungkapkan secara teratur dan sesuai dengan urutan serta tingkatannya, baik dalam kalimat maupun dalam alinea atau paragraf merupakan seperangkat kalimat yang mengemban satu ide atau satu pokok bahasan.


Pengertian presentasi Ilmiah
Secara bahasa presentasi ilmiah berasal dari kata presentasi dan ilmiah:
1.      Presentasi berasal dari bahasa Inggris yang berarti menyajikan atau memaparkan.
2.      Ilmiah berarti bersifat ilmu; secara ilmu pengetahuan; memenuhi syarat (kaidah) ilmu pengetahuan.
Sehingga Presentasi ilmiah menurut bahasa adalah menyajikan atau memaparkan suatu karya tulis yang bersifat ilmiah. Sedangkan secara umum presentasi ilmiah adalah hal yang besangkutan dengan situasi resmi atau formal sehingga dalam presentasi ragam ilmiah haruslah berpedoman pada kaidah bahasa Indonesia yang tepat. Presentasi ilmiah ilmiah bertjan untuk menyebarkan atau memberikan informasi kepada peserta seperti seminar, diskusi, dan lain-lain.
Dalam upaya mengefektifkan presentasi ilmiah maka ada tata cara yang perlu dipedomani:
1.      Menarik minat dan perhatian peserta
Untuk menarik minat dan perhatian peserta, maka seorang penyaji materi atau orang akan memaparkan satu karya ilmiah dapat menggunakan media (dapat berupa; media gambar, power point, dan media presentasi yang lainnya), menjaga suara agar tidak monoton serta terdengar dengan jelas oleh seluru peserta yang berada pada sat ruangan di mana pemaparan karya ilmiah diadakan.

2.      Menjaga agar presentasi tetap fokus pada masalah yang dibahas
Untuk menjaga agar presentasi tetap fokus pada masalah yang dibahas, penyaji harus menaati bahan yang telah disiapkan dan memberi penjelasan singkat, padat, terhadap butir-butir inti dari apa yang akan dijelaskan.
3.      Menjaga etika atau tingkah laku ketika sedang memberikan materi atau memaparkan suatu karya ilmiah
Etika sangat perlu diperhatikan dalam memberikan atau memaparkan suatu karya ilmiah karena hal ini akan berdampak pada sukses atau tidak suksesya suatu presentasi karya ilmiah. Hal yang sangat perlu diperhatikan pada etika saat presentasi karya ilmiah yaitu jangan sampai dalam berlangsungnya diskusi atau pun pemaparan karya ilmiah terdapat kata-kata yang menyinggung peserta dalam pemaparan karya ilmiah tersebut.
Sesuai dengan penjelasan sebelumnya, bahwa dalam melakukan presentasi ilmiah haruslah memaparkan suatu fakta, kosep, teori, dan gabungan dari keempat hal tersebut serta sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan bena atau yang dikenal sebagai bahasa Indonesia yang resmi.
Sementara itu, beberapa fasilitas dalam penggunaaan bahasa lisan tetap bisa dimamfaatkan misalnya adanya kesempatan untuk menuglang-ulang, menekan dengan menggunakan intonasi, jedah, dan unsur suprasegmental lainnya.
Presentasi ragam ilmiah adalah hal yang sangat menarik untuk diikuti sehingga dapat di perkirakan pesertanya akan terdiri dari beberapa kalangan atau pun suku, sehingga di sinilah peran bahasa Indonesia yang resmi. Selain penggunaan bahasa Indonesia yang resmi, kita juga dapat dibantu dengan media yang ada seperti media visual yaitu berupa bantan LCD projector dan power point, atau pun juga media yang lebih sederhana yang berupa poster atau gambar serta mind map.

BAB III
PENUTUP

     A.    Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa:
1.      Bahasa Indonesia ragam ilmiah merupakan salah satu bahasa Indonesia yang digunakan dalam menulis karya ilmiah. Sebagai bahasa yang digunakan untuk memaparkan fakta, konsep, prinsip, teori atau gabungan dari keempatnya, bahasa Indonesia diharapkan menjadi media efektif untuk komunikasi ilmiah, baik secara tertulis maupun lisan.
2.      Bahasa Indonesia ragam ilmiah memiliki karakteristik cendikia, lugas, dan jelas, menghindari kalimat fragmatis, bertolak dari gagasan, formal, objektif dan konsisten, bertolak dari gagasan, dan ringkas dan padat.
3.      Ragam bahasa adalah  variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara. Ragam bahasa ditinjau dari media atau sarana yang digunakan untuk menghasilkan bahasa, yang terdiri dari ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulisan.
4.      Pada saat menulis tulisan ilmiah penulis harus berusaha keras agar bahasa Indonesia yang di gunakan benar-benar menunjukkan sifat yang cendikia, lugas dan jelas, bertolak dari gagasan, formal, objektif, ringkas dan padat, serta konsisten.
5.      Ciri-ciri penggunaan bahasa Indonesia ragam ilmiah dalam penulisan karya ilmiah yaitu baku, logis, kuantitatif, tepat, denotatif, dan runtun.

     B.     Saran

Penulis sarankan kepada pembaca agar membudayakan penggunaan bahasa ilmiah dalam keadaan resmi (Formal) agar bahasa Indonesia  dapat melekat pada diri kita masing-masing dan kita lebih berani berbicara di depan umum walau itu dalam lingkungan formal terlebih dalam lingkungan informal.













DAFTAR PUSTAKA

R, A. Subantari, dkk. 1998. Bahasa Indonesia dan Penyusunan Karangan Ilmiah. Bandung: IAIN Sunan Gunung Djati.
Poerwadarminta. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Dardjowijojo, Soejono. 1996. Bahasa Indonesia Kita. Bandung : ITB Bandung.
Anshari, Abdullah Dola, Ahyar Anwar, Akmal Hamsa, Salam, Juanda, Ramly,       Mayong Maman, Azis, Nensilianti, Idawati, Helena, Nurwaty Syam,            Asia, Suarni Syamsaguni, Muhammad Rapi, Achmad Tollo, Muhammad,    Johar amir, sulastriningsih, A. wardihan, Syamsudduha, Kembong Daeng,  Enung Maria, Taufik, Usman, Bachtiar Syamsuddin, Andi Fatimah Yunus,            Hajrah,dan Faisal. 2013. Mata Kuliah Pengenbangan Kepribadian Bahasa   Indonesia. Makassar: Badan pengembangan bahasa dan sastra indonesia dan          daerah fakultas bahasadan sastra Universitas Negeri Makassar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar