Kamis, 31 Maret 2016

matematika islam



KESEIMBANGAN ANGKA DALAM AL-QURAN
ABDULLAH/1416120001
Mahasiswa Pendidikan Matematika Semester 2A
ABSTRAK:
penelitian tentang keseimbangan angka yang telah memunculkan pemikiran baru yaitu dengan mengkolerasikan keseimbangan angka tersebut dengan islam dengan landasan pengkajian berpusat pada kitab suci al-quran.jika dilihat secara nilai matematis  pembahasan tentang  keseimbangan angka memang suatu hal yang biasa, tapi akan menjadi suatu keluarbiasaan jika di hubungkan dengan al-quran.berdasarkan hal tersebut kita dapat menemukan suatu kesimpulan besar  bahwa al-quran bukan hanya sekedar kitab suci melainkan suatu ciptaan yang maha agung dan tidak akan mampu tercipta dari hasil pemikiran manusia.
Kata kunci: Keseimbangan Matematika, AL-Quran

  1. PENDAHULUAN:
Abah Salma Alif Sampayya, penulis buku Keseimbangan Matematika dalam Alquran , menyatakan, bilangan adalah roh dari matematika dan matematika merupakan bahasa murni ilmu pengetahuan ( lingua pura ). Setiap bilangan memiliki nilai yang disebut dengan angka. Peranan matematika dalam kehidupan pernah dilontarkan oleh seorang filsuf, ahli matematika, dan pemimpin spiritual Yunani, Phitagoras (569-500 SM), 10 abad sebelum kelahiran Rasulullah SAW. Phitagoras mengatakan, angka-angka mengatur segalanya.
Kemudian, 10 abad setelah kelahiran Rasulullah SAW, Galileo Galilea (1564-1642 M), mengatakan: Mathematics is the language in which God wrote the universe (Matematika adalah bahasa yang digunakan Tuhan dalam menulis alam semesta). Hal ini menunjukkan bahwa mereka mempercayai kekuatan angka-angka (bilangan) di dalam kehidupan. Senada dengan pendapat Galileo, Carl Sagan, seorang fisikawan dan penulis novel fiksi ilmiah, mengatakan, matematika sebagai bahasa yang universal.jh
Seperti halnya alam semesta yang diciptakan-Nya dalam keseimbangan yang menakjubkan, tanpa cacat, tanpa cela dan dalam ukuran yang tepat, demikian juga halnya dengan Al-Quran. Al-Quran mengungkap kebenaran dirinya sendiri, salah satunya dalam bentuk keseimbangan matematika seperti yang tertulis didalam surah Ali-imran : 190

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”(QS ali-imran:190).
 Ayat di atas merupakan beberapa contoh yang disebutkan Allah dalam Alquran mengenai keberadaan angka-angka (bilangan). Tujuannya agar manusia itu menggunakan akalnya untuk berpikir dan meyakini apa yang telah diturunkan, yakni Alquran. Allah menciptakan alam semesta ini dengan perhitungan yang matang dan teliti. Ketelitian Allah itu pasti benar. Dan, Dia tidak menciptakan alam ini dengan main-main. Semuanya dibuat secara terencana dan perhitungan.[i]
Dari hasil penalaran tersebut penulis terinspirasi mengangkat judul KESEIMBANGAN ANGKA DALAM AL-QURAN dan hal ini membuktikan bahwa sungguh luar biasa ciptaan tuhan yang tidak pernah tercapai oleh akal fikiran manusia karena pembuktian akan kolerasi matematika dalam al-quran telah memberi banyak inspirasi untuk menemukan suatu hal baru.

  1. PEMBAHASAN:
  1. Awal Penemuan Rumus
‘Abd al-Razz.q Nawfal, ketika menulis kitab al-Isl.m D.n wa Duny. (1959), menemukan jumlah bilangan kata duny. (dunia) dalam al-Qur’an disebutkan dalam bilangan yang sama dengan akh.rah (akhirat). Selanjutnya ia juga menemukan bahwa kata syay.th.n (setan) dan mal.’ikah (malaikat) disebutkan dalam bilangan yang sama, ketika sedang menulis kitab ‘.lam al-Jinn wa al-Mal.’ikah (1968). Pada awalnya, hal itu tidak dianggap sebagai hal menakjubkan, tetapi setelah ditelusuri di beberapa tempat, ternyata ia menemukan keajaiban dalam bilangan-bilangan kata tersebut.
Fenomena ini memperlihatkan keterkaitan (tan.sub) dan keseimbangan (taw.zun) pada setiap bentuk redaksional yang ditemukan. Bentuk-bentuk ini kemudian dikategorisasi berdasarkan keserupaan (mutam.tsilah), kemiripan (mutasy.bihah), keberlawanan (mutan.qidhah), dan keterhubungan (mutar.bithah). Kategori keserupaan dan kemiripan dapat dianggap sama, sehingga dapat disebut hubungan sinonimitas, yaitu kesamaan jumlah bilangan kata dengan kata sinonimnya. Kategori keberlawanan merupakan kesamaan bilangan suatu kata dengan kata antonim atau lawan katanya. Sedangkan kategori keterhubungan pada umumnya menunjuk bilangan suatu kata dengan kata lain dalam hubungan sebab-akibat atau sebaliknya. Dengan demikian, terdapat tiga kategori dalam fenomena atau diskursus mukjizat ini, yakni keserupaan, keberlawanan dan keterhubungan. Menurut Quraish Shihab, fenomena ini disebut dengan keseimbangan redaksional yang terdiri dari lima kategori.
Menurut Nawfal, fenomena ini merupakan salah satu bentuk i‘j.z al-Qur’.n yang memungkinkan bagi para peneliti atau peminatnya untuk memunculkan wacana tersebut. Hal ini dapat meningkatkan kesempurnaan iman seseorang, bahwa al-Qur’an tidak mungkin tidak sebagai wahyu Allah swt kepada nabi-Nya yang terakhir, karena keadaannya yang di atas kemampuan akal manusia dan makhluk lainnya. Oleh karena itu, diskursus baru dalam mukjizat al-Qur’an ini disebut sebagai al-i‘j.z al-‘adad. (kemukjizatan bilangan angka dalam al-Qur’an yang mulia).
Al-Qur’an menginformasikan bahwa dalam ciptaan Allah terdapat kesesuaian atau keseimbangan, sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Hijr ayat14.
öqs9ur $oYóstFsù NÍköŽn=tã $\/$t/ z`ÏiB Ïä!$yJ¡¡9$# (#q=sàsù ÏmŠÏù tbqã_ã÷ètƒ ÇÊÍÈ  
Dan jika seandainya kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya(QS. Al-Hijr : 14 )

Surah Al-Mulk Ayat 3:
Yang Telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka Lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?(QS. Al-Mulk: 3)
Begitu pula halnya dengan al-Qur’an, selain hanya memberikan informasi dalam hal tersebut, ia juga memiliki prinsip-prinsip kesesuaian, keseimbangan, keserasian, ataupun keterhubungan yang dapat dihitung dengan angka/bilangan. Informasi dan interpretasi seperti ini merupakan salah satu landasan pemikiran tentang adanya kemukjizatan al-Qur’an dalam hal jumlah atau bilangan, khususnya rumus keseimbangan angka.


  1. Bentuk-bentuk rumus keseimbangan angka
Bentuk-bentuk keseimbangan bilangan redaksional merupakan hasil penelitian terhadap lafal-lafal (alf.zh) yang menurut hitungan Nawfal secara keseluruhan mencapai jumlah 51.924 kata. Penelitian ini difokuskan pada pola kesamaan makna, keterkaitan maksud, dan kesesuaian lainnya yang ditunjukkan oleh jumlah penyebutannya dalam al-Qur’an. Dari penelitian ini tampak dominasi rumus keseimbangan bilangan redaksi kata-kata tertentu dalam al-Qur’an. Hasil-hasil penelitiannya terhadap kata-kata tersebut dapat diringkas sebagai berikut:
  v  Keseimbangan kata sinonim, semakna atau serupa:
  1. al-la’nah, al-karahiyah masing-masing sebanyak 41
  2. yauma’id, al-qiyamah masing-masing sebanyak 70
  3. al-bukhl, al-hasrah, al-thama’, al-juhud masing-masing sebanyak 12
  4. al-jabr, al-qahr, al-‘uthuww masing-masing sebanyak 10
  5. al-‘ajab, al-ghurur masing-masing sebanyak  27
  6. al-harb, al-asra masing-masing sebanyak  6
  7. al-ghawayah (al-khata’, al-khathi’ah) masing-masing sebanyak 22
  8. al-fakhsya’, al-baghy masing-masing sebanyak 24
  9. al-istm, (al-fakhsya’, al-baghy) masing-masing sebanyak 48
  10. al-asbath, al-hawariyun, (al-ruhban, alqissisun) masing-masing sebanyak 5
  11. al-harts, al-zira’ah, al-fakihah, al-atha’ masing-masing sebanyak 14
  12. al-syajar, al-nabat masing-masing sebanyak 26
  13. al-albab, al-af’idah masing-masing sebanyak 16[ii]
  v  Kesimbangan antara jumlah Bilangan Kata dengan Bilangan Antonimnya:
  1. Al Hayah (hidup) dan Al Mawt (mati), masing-masing sebanyak 145 kali
  2. An Naf (manfaat) dan Al Madharrah (mudarat) masing-masing 50 kali
  3. Al Har (panas) dan al Bard (dingin), masing-masing 4 kali
  4. A Shalihat (kebajikan) dan Al Sayyi’at (keburukan), masing-masing 167 kali
  5. Al Thuma’ninah (kelapangan/ ketenangan) dan Al Dhiq (kesempitan/ kekesalan), masing-masing 13 kali
  6. Ar Rahbah (cemas/takut) dan Al Raghbah (hapap/ingin), masing-masing 8 kali
  7. Al Kufr (kekufuran) dan Al Iman, masing-masing 17 kali
  8. Al Shayf (musim panas) dan Al Syita’ (musim dingin), masing masing 1 kali
  v  Kesimbangan Jumlah Kata dengan dengan Sinonimnya/ makna yang Dikandungnya:
  1. Al Harf dan Al Zira’ah (membajak/ bertani), masing-masing 14 kali
  2. Al ‘Ushb dan Al Dhurur ( membanggakan diri/ angkuh) masing-masing 27 kali
  3. Al Dhallun dan Al Mawta (orang sesat/mati (jiwanya), masing-masing 17 kali
  4. Al Islam dan Al Wahyu (Al Qur’an, wahyu, dan Islam), masing-masing 70 kali.
  5. Al ‘Aql dan An Nur (akal dan cahaya) masing-masing 49 kali
  6. Al Jahr dan Al’Alamiyah (nyata), masing-masing 16 kali
  v  Keseimbangan antara Jumlah Bilangan Kata dengan Jumlah Kata yang Menunjuk pada Akibatnya:
  1. Al Infaq (Infaq) dengan Ar Ridha (kerelaan), masing-masing 73 kali
  2. Al Bukhl (kekikiran) dengan Al Hasarah (penyesalan), masing-masing 12 kali
  3. Al Zakah (zakat/penyucian) dengan Al Barakat (kebajikan yan banyak), masing-masing 32 kali
  4. Al Fahisyah (kekejian) dengan Al Ghadb (murka), masing-masing 26 kali
  v  Keseimbangan antara Jumlah Bilangan kata dengan Kata Penyebabnya:
  1. Al Israf (pemborosan) dengan Al Sur’ah (ketergesa-gesaan), masing-masing 23 kali
  2. Al Maw-izhah (nasihat/petuah) Al Lisan (lidah), masing-masing 25 kali
  3. Al Asra (tawanan) dengan Al Harb (perang), masing-masing 6 kali
  4. Al Salam (kedamaian) dengan Al Thayyibat (kebajikan), masing-masing 60 kali
  v  Disamping Keseimbangan-keseimbangan Tersebut, Ditemukan juga Keseimbangan Khusus:
  1. Kata Yaum (hari) dalam bentuk tunggal, masing-masing sejumlah 365 kali. Sama dengan jumlah hari dalam satu tahun.
  2. Sedangkan kata hari yang menunjukkan kata plural (Ayyam) dan dua (Yaw-mayni) jumlah keseluruhannya 30, sama dengan jumlah hari dalam satu bulan. Di sisi lain kata yang berarti bulan (Syahr) hanya terdapat 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun
  3. Al Qur’an menjelasakan bahwa langit ada 7, penjelasan ini diulanginya dalam 7 kali pula
  4. Kata-kata yan menunjukkan kepada utusan Tuhan baik Rasul atau Nabiyy (nabi) atau Basyir (pembawa berita), atau Nadzir (pemberi peringatan), keseluruhannya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita tersebut, yakni 518 kali[iii]
  5. Kata “Syahr” ( bulan) disebutkan sebanyak 12 kali, sama dg jumlah Bulan dalam satu Tahun.
  6. Kata “Sab’u” (minggu) disebutkan 7 kali, sama dengan jumlah hari dalam satu minggu.
  7. Jumlah “ saah” (jam) yang didahului dengan ‘harf’ disebutkan sebanyak 24 kali, sama dengan jumlah jam dalam satu hari.
  8. Kata “Sujud” disebutkan 34 kali, sama dengan jumlah sujud  dalam solat 5 waktu
  9. Kata “Shalawat” disebutkan 5 kali, sama dengan jumlah solat wajib sehari semalam.
  10. Kata “Aqimu” yang diikuti kata “Shalat” sebanyak 17 kali, sama dengan jumlah Raka’at Sholat fardhu/ wajib[iv].
Fenomena yang menarik pula adalah adanya isyarat dari suatu ayat tentang lafal-lafal tertentu yang kemudian dapat diteliti jumlahnya dalam al-Qur’an. Seperti tersebut dalam Qs. al-Ahz.b/33: 35, kata-kata al-muslim.n sampai dengan al-dz.kir.t disebutkan seluruhnya sebanyak 259 kali. Angka ini merupakan bilangan yang sama dengan jumlah keseluruhan dari kata-kata al-ajr, al-fath, dan al-‘azh.m, yang juga disebutkan dalam ayat yang sama.
Termasuk hasil penghitungan Nawfal adalah ditemukannya kata-kata dengan kategorisasi di atas namun tidak menghasilkan bilangan yang seimbang. Bentuk ini dinyatakan dengan perbandingan atau kelipatan dari bilangan kata pertama terhadap kata kedua. Bentuk ini ternyata terdiri dari perbandingan 1 : 2, atau kelipatan 2, seperti yang dapat ditemukan pada:



No. Kata Kata. Jumlah
1. al-rahman al-rahim 57 : 114
2. al-abrar al-fujjar 3 : 6
3. al-‘usr alyusr 12 : 36
4. al-jaza’ al-maghfirah 117 : 234
5. al-dhalalah al-ayat 191 : 382

Menurut hemat penulis, hasil penghitungan ini tidak memberikan kontribusi untuk membuktikan atau mendukung rumus keseimbangan angka, jika dibandingkan dengan daftar kata-kata tersebut di atas. Namun, hal ini dapat digunakan untuk menguatkan adanya prinsip keserasian dalam bilangan kata, meskipun tidak berarti keseimbangan dalam jumlah. Kelima bentuk di atas menunjukkan bentuk keserasian dalam perbandingan jumlah kata, yakni 1 berbanding 2.


Baca Juga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar